Allah SWT berfirman, Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS An-Nahl [16]: 97).
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sedar. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong kerana materi sangat mudah terlihat, namun sombong kerana pengetahuan, apalagi sombong kerana kebaikan, sulit terdeteksi kerana seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.
Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.
Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.
Kedua, kita perlu sedar bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.
Allah Ta'ala berfirman:
Dan Jangan lah kamu memalingkan mukamu daru manusia (kerana sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Luqman (31):18)
kalau begitu apa yang kita sombongkan.
22 May 2011
MENGGAPAI INDAHNYA SABAR
Secara global kehidupan semua manusia adalah sama, mereka hanya akan melewati dua sisi hidup yang Allah Ta’ala pasangkan; bahagia dan bencana, mudah dan sulit, suka dan duka. Kita pun sudah, sedang, dan akan terus merasakan keduanya silih berganti. Kehidupan ini bagaikan roda yang berputar, kadang posisi kita di atas dan kadang di bawah, semua akan mendapatkan gilirannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia ..” (QS. Ali Imran (3): 140)
Demikianlah hidup kita. Namun, tidak sedikit manusia yang tidak terima kenyataan ini. Keinginan mereka adalah semua hari adalah bahagia, semua cuaca adalah cerah, semua tanah adalah subur, semua air adalah jernih. Tidak demikian. Manusia semacam ini akan terombang ambing oleh impian dan dipenjara oleh fatamorgana yang hanya dapat berubah jika mereka mau menerima kenyataan hidup dan siap mengarunginya.
Ada pun bagi seorang beriman, mereka akan menyikapi dua sisi hidup ini secara ikhlas dan penuh ridha. Mereka meyakini, baik atau buruk dari apa yang dialami manusia, pastilah memiliki pelajaran berharga dan rahasia manis yang dapat diketahui cepat atau lambat. Tidak ada yang sia-sia.
Allah Ta’ala menceritakan perkataan orang-orang yang mendalam ilmunya (Ulil Albab):
“Tuhan kami, tidaklah apa yang Engkau ciptakan ini sia-sia.” (QS. Ali Imran (3): 190)
Ya, semua keadaan pasti membawa manfaat untuk kita, sebab Allah Ta’ala tidaklah mengadakannya untuk main-main dan kesia-siaan. Oleh karena itu, sikap terbaik terhadap bencana adalah bersabar, sikap terbaik terhadap kebahagaiaan adalah bersyukur. Inilah cara yang ditempuh orang beriman, sikap yang diambil para shalihin (orang-orang shalih), dan jawaban yang diberikan para fuqaha (orang-orang yang faham agama).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga telah menggambarkan:
“Sungguh mengagumkan melihat urusan orang mukmin, baginya, semua masalah adalah baik. Dan, sikap yang demikian tidaklah terjadi kecuali oleh orang beriman. Jika dia mendapatkan kebahagiaan dia bersyukur dan itu adalah hal yang baik baginya, dan jika dia mendapatkan keburukan dia bersabar, dan itu adalah hal baik baginya.” (HR. Muslim No. 2999, Ibnu Hibban No. 2896)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Bukanlah kekayaan dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan sebenarnya adalah yang kaya jiwanya.” (HR. Bukhari
Seorang hamba bersyukur bukan hanya di bibir dengan ucapan Alhamdulillah, tetapi dia tampakkan dalam sikap hidup; yaitu menjaga dan memanfaatkan sebaik-baiknya nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepadanya dengan cara dan tujuan yang baik pula, tidak iri dan dengki terhadap anugerah yang Allah Ta’ala titipkan kepada orang lain, serta adanya perbaikan dalam kualitas hubungan dengan Allah Ta’ala (ibadah) dan hubungan dengan manusia (sosial).
Percayalah, sikap syukur tidak akan memberikan apa-apa bagi pelakunya kecuali hanya kebaikan dan kebaikan. Dia akan dicintai manusia, sebab kehadirannya bukan ancaman bagi orang lain. Dia akan dicintai Allah Ta’ala, sebab dia tidak kufur atas nikmatNya, bahkan Allah Ta’ala akan menambah nikmat untuk hamba-hambaNya yang bersyukur.
Sabar memang berat. Oleh karena itu, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah memasukkan sabar dalam menuntut ilmu, sabar dalam menghafalkan ilmu, dan sabar dalam menyampaikan ilmu adalah termasuk jihad fisabilillah. Maka, dari sini kita bisa mengetahui bahwa sabar bukanlah kelemahan, justru sabar adalah kekuatan, sabar bukan kelesuan tetapi dia adalah gairah hidup, sabar bukan kecengengan tetapi dia adalah ketegaran, sabar bukanlah pesimis tetapi dia adalah optimis, dan sabar bukanlah diam membisu tetapi dia adalah pantang menyerah. Dan, orang sabar bukan sekedar yang tidak menangis ketika mendapatkan musibah, bukan pula sekedar tidak mengeluh ketika tertimpa kesulitan, sebab itu barulah tahapan awal kesabaran.
Dibalik Sabar Ada Kemenangan
Ini adalah janji Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang bersabar. Dan, janjiNya adalah benar. Namun jangan lupa, sabar juga bukan kekuatan tanpa perhitungan, sabar bukan ketegaran tanpa tujuan, sabar bukan pesimis tanpa arahan, sabar bukanlah gerak pantang menyerah namun tanpa pemikiran yang matang. Tidak demikian. Tetapi sabar adalah berpadunya kekuatan dan perhitungan, ketegaran dan tujuan, optimis dan arahan, gerak pantang menyerah dan pemikiran matang, maka tunggulah kemenangan yang Allah Ta’ala janjikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia ..” (QS. Ali Imran (3): 140)
Demikianlah hidup kita. Namun, tidak sedikit manusia yang tidak terima kenyataan ini. Keinginan mereka adalah semua hari adalah bahagia, semua cuaca adalah cerah, semua tanah adalah subur, semua air adalah jernih. Tidak demikian. Manusia semacam ini akan terombang ambing oleh impian dan dipenjara oleh fatamorgana yang hanya dapat berubah jika mereka mau menerima kenyataan hidup dan siap mengarunginya.
Ada pun bagi seorang beriman, mereka akan menyikapi dua sisi hidup ini secara ikhlas dan penuh ridha. Mereka meyakini, baik atau buruk dari apa yang dialami manusia, pastilah memiliki pelajaran berharga dan rahasia manis yang dapat diketahui cepat atau lambat. Tidak ada yang sia-sia.
Allah Ta’ala menceritakan perkataan orang-orang yang mendalam ilmunya (Ulil Albab):
“Tuhan kami, tidaklah apa yang Engkau ciptakan ini sia-sia.” (QS. Ali Imran (3): 190)
Ya, semua keadaan pasti membawa manfaat untuk kita, sebab Allah Ta’ala tidaklah mengadakannya untuk main-main dan kesia-siaan. Oleh karena itu, sikap terbaik terhadap bencana adalah bersabar, sikap terbaik terhadap kebahagaiaan adalah bersyukur. Inilah cara yang ditempuh orang beriman, sikap yang diambil para shalihin (orang-orang shalih), dan jawaban yang diberikan para fuqaha (orang-orang yang faham agama).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga telah menggambarkan:
“Sungguh mengagumkan melihat urusan orang mukmin, baginya, semua masalah adalah baik. Dan, sikap yang demikian tidaklah terjadi kecuali oleh orang beriman. Jika dia mendapatkan kebahagiaan dia bersyukur dan itu adalah hal yang baik baginya, dan jika dia mendapatkan keburukan dia bersabar, dan itu adalah hal baik baginya.” (HR. Muslim No. 2999, Ibnu Hibban No. 2896)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Bukanlah kekayaan dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan sebenarnya adalah yang kaya jiwanya.” (HR. Bukhari
Seorang hamba bersyukur bukan hanya di bibir dengan ucapan Alhamdulillah, tetapi dia tampakkan dalam sikap hidup; yaitu menjaga dan memanfaatkan sebaik-baiknya nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepadanya dengan cara dan tujuan yang baik pula, tidak iri dan dengki terhadap anugerah yang Allah Ta’ala titipkan kepada orang lain, serta adanya perbaikan dalam kualitas hubungan dengan Allah Ta’ala (ibadah) dan hubungan dengan manusia (sosial).
Percayalah, sikap syukur tidak akan memberikan apa-apa bagi pelakunya kecuali hanya kebaikan dan kebaikan. Dia akan dicintai manusia, sebab kehadirannya bukan ancaman bagi orang lain. Dia akan dicintai Allah Ta’ala, sebab dia tidak kufur atas nikmatNya, bahkan Allah Ta’ala akan menambah nikmat untuk hamba-hambaNya yang bersyukur.
Sabar memang berat. Oleh karena itu, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah memasukkan sabar dalam menuntut ilmu, sabar dalam menghafalkan ilmu, dan sabar dalam menyampaikan ilmu adalah termasuk jihad fisabilillah. Maka, dari sini kita bisa mengetahui bahwa sabar bukanlah kelemahan, justru sabar adalah kekuatan, sabar bukan kelesuan tetapi dia adalah gairah hidup, sabar bukan kecengengan tetapi dia adalah ketegaran, sabar bukanlah pesimis tetapi dia adalah optimis, dan sabar bukanlah diam membisu tetapi dia adalah pantang menyerah. Dan, orang sabar bukan sekedar yang tidak menangis ketika mendapatkan musibah, bukan pula sekedar tidak mengeluh ketika tertimpa kesulitan, sebab itu barulah tahapan awal kesabaran.
Dibalik Sabar Ada Kemenangan
Ini adalah janji Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang bersabar. Dan, janjiNya adalah benar. Namun jangan lupa, sabar juga bukan kekuatan tanpa perhitungan, sabar bukan ketegaran tanpa tujuan, sabar bukan pesimis tanpa arahan, sabar bukanlah gerak pantang menyerah namun tanpa pemikiran yang matang. Tidak demikian. Tetapi sabar adalah berpadunya kekuatan dan perhitungan, ketegaran dan tujuan, optimis dan arahan, gerak pantang menyerah dan pemikiran matang, maka tunggulah kemenangan yang Allah Ta’ala janjikan.
TENTANG DUNIA
Allah SWT. berfirman dalam Hadits Qudsi:
"Wahai dunia! Berkhidmatla kepada orang yang telah berhidmat kepada-Ku, perbudaklah orang yang mengabdi kepadamu".
(HQR al-Qudla'i yang bersumber dari Ibnu Mas'ud r.a)
Bilamana orang itu benar-benar berkhidmat kepada Allah SWT, maka dunia ini atau alam ini pasti akan berkhidmat kepadanya. Kalau ia seorang petani, sawah, ladang atau hasil buminya akan subur melimpah dan mudah rizkinya. Kalau ia seorang pedagang, akan mudah peruntungan dalam perdagangannya, mudah dapat kemajuan dalam perusahaannya, ia mudah mendapat rizki yang halal.
Orang yang berkhidmat kepda Allah, senantiasa akan menikmati sehat badan, menikmati ketenangan hidup,menikmati kebahagiaan dan kesejahteraan rumah tangga, menikmati kerukunan bertetangga dan lain-lain. Meskipun hidupnya sederhana, akan tetapi hidup dan kehidupannya itu benar2 mendapat dukungan dan pelayanan dari seluruh kehidupan dunia sekitarnya.
Allah SWT. telah menundukkan dan menyerahkan DUNIA ini dengan segala yang ada padanya, juga seluruh langit dengan isinya kepada manusia, untuk diusahakan dan diolahnya, guna memenuhi keperluan hidupnya, dengan berpedoman pada tuntunan agama Allah.
Allah berfirman:
"Tidaklah kalian perhatikan bahwa Allah menundukkannya untuk (kepentingan) kalian apa yang ada di langit dan di bumi dan menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya lahir dan batin... (Q.S. 31 Luqman:20)
Namun yang sangat diutamakan, ialah keseimbangan kehidupan kini di dunia dengan kehidupan kelak di akhirat, sebagaimana firman Allah SWT :
Dan usahakanlah apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah berusaha berbuat kerusakan di (muka) bumi. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. ( Q.S. al-Qashash:77).
Keseimbangan hidup ini sangat tergantung niat hati, apakah akan menggunakan dunia ini sebagai jembatan bagi kehidupan di alam akhirat ataukah hanya untuk menghambakan diri pada dunia.
Dalam Hadits mengenai "niat" yang diriwayatkan oleh Umar ra. bahwa tiap-tiap amalan perbuatan haruslah berlandaskan niat, dan nilai amal yang dikerjakan itu pada sisi Allah SWT. tergantung pada niat orang yang mengerjakannya, yakni kepada NAWAITU-nya. Karena itu agar kita berkhidmat kepada Allah, niatkanlah semua urusan dunia yang kita kerjakan, untuk bekal diakhirat.
Seorang suami yang membanting tulang mencari nafkah bagi istri dan anak-anaknya, dengan niat agar istri dan anak-anaknya tidak bimbang mengerjakan ibadah, agar anak-anaknya tekun menuntut ilmu maka usaha itu akan diperhitungkan sebagai amal kebajikan yang akan mendapat pahala dan di masukan dalam golongan urusan akhirat juga.
Sebagian Hadits-Hadits Nabi saw. mengenai urusan dunia :
Barang siapa yang menjadikan dunia ini (pusat) cita-citanya, niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kepapan menghantui dirinya serta tidak akan datang kepadanya keduniaan melainkan sekedar apa yang telah ditetapkan. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat itu niatnya, niscaya Allah akan menghimpunkan segala urusan serta menciptakan kepuasan dalam hatinya sementara dunia datng tunduk kepadanya.
Barang siapa yang bertekad hanya menghubungkan diri kepada Allah SWT. semata, niscata Allah menjamin segala keperluannya. Dan memberi rizki dari yang tidak pernah didugannya. Dan barang siapa yang bertekad menghubungkan diri kepada dunia semata, niscaya Allah menyerahkannya pada dunia itu.
Sesungguhnya Allah menjaga dan membatasi hamba-Nya yang Mu'min dari dunia walaupun ia senang kepadanya, sebagaimana kalian menjaga dan membatasi orang sakit dari makanan dan minuman tertentu. (H.R. al-Hakim yang bersumber dari Abi Said dengan dla'if).
Wahai dunia jadikanlah engkau sangat pahit kepada wali-wali-Ku dan janganlah engkau menampakkan kemanisanmu kepada mereka untuk menggoda mereka. (HQR Qudla'i yang bersumber dari Ibnu Mas'ud ra.)
"Wahai dunia! Berkhidmatla kepada orang yang telah berhidmat kepada-Ku, perbudaklah orang yang mengabdi kepadamu".
(HQR al-Qudla'i yang bersumber dari Ibnu Mas'ud r.a)
Bilamana orang itu benar-benar berkhidmat kepada Allah SWT, maka dunia ini atau alam ini pasti akan berkhidmat kepadanya. Kalau ia seorang petani, sawah, ladang atau hasil buminya akan subur melimpah dan mudah rizkinya. Kalau ia seorang pedagang, akan mudah peruntungan dalam perdagangannya, mudah dapat kemajuan dalam perusahaannya, ia mudah mendapat rizki yang halal.
Orang yang berkhidmat kepda Allah, senantiasa akan menikmati sehat badan, menikmati ketenangan hidup,menikmati kebahagiaan dan kesejahteraan rumah tangga, menikmati kerukunan bertetangga dan lain-lain. Meskipun hidupnya sederhana, akan tetapi hidup dan kehidupannya itu benar2 mendapat dukungan dan pelayanan dari seluruh kehidupan dunia sekitarnya.
Allah SWT. telah menundukkan dan menyerahkan DUNIA ini dengan segala yang ada padanya, juga seluruh langit dengan isinya kepada manusia, untuk diusahakan dan diolahnya, guna memenuhi keperluan hidupnya, dengan berpedoman pada tuntunan agama Allah.
Allah berfirman:
"Tidaklah kalian perhatikan bahwa Allah menundukkannya untuk (kepentingan) kalian apa yang ada di langit dan di bumi dan menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya lahir dan batin... (Q.S. 31 Luqman:20)
Namun yang sangat diutamakan, ialah keseimbangan kehidupan kini di dunia dengan kehidupan kelak di akhirat, sebagaimana firman Allah SWT :
Dan usahakanlah apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah berusaha berbuat kerusakan di (muka) bumi. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. ( Q.S. al-Qashash:77).
Keseimbangan hidup ini sangat tergantung niat hati, apakah akan menggunakan dunia ini sebagai jembatan bagi kehidupan di alam akhirat ataukah hanya untuk menghambakan diri pada dunia.
Dalam Hadits mengenai "niat" yang diriwayatkan oleh Umar ra. bahwa tiap-tiap amalan perbuatan haruslah berlandaskan niat, dan nilai amal yang dikerjakan itu pada sisi Allah SWT. tergantung pada niat orang yang mengerjakannya, yakni kepada NAWAITU-nya. Karena itu agar kita berkhidmat kepada Allah, niatkanlah semua urusan dunia yang kita kerjakan, untuk bekal diakhirat.
Seorang suami yang membanting tulang mencari nafkah bagi istri dan anak-anaknya, dengan niat agar istri dan anak-anaknya tidak bimbang mengerjakan ibadah, agar anak-anaknya tekun menuntut ilmu maka usaha itu akan diperhitungkan sebagai amal kebajikan yang akan mendapat pahala dan di masukan dalam golongan urusan akhirat juga.
Sebagian Hadits-Hadits Nabi saw. mengenai urusan dunia :
Barang siapa yang menjadikan dunia ini (pusat) cita-citanya, niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kepapan menghantui dirinya serta tidak akan datang kepadanya keduniaan melainkan sekedar apa yang telah ditetapkan. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat itu niatnya, niscaya Allah akan menghimpunkan segala urusan serta menciptakan kepuasan dalam hatinya sementara dunia datng tunduk kepadanya.
Barang siapa yang bertekad hanya menghubungkan diri kepada Allah SWT. semata, niscata Allah menjamin segala keperluannya. Dan memberi rizki dari yang tidak pernah didugannya. Dan barang siapa yang bertekad menghubungkan diri kepada dunia semata, niscaya Allah menyerahkannya pada dunia itu.
Sesungguhnya Allah menjaga dan membatasi hamba-Nya yang Mu'min dari dunia walaupun ia senang kepadanya, sebagaimana kalian menjaga dan membatasi orang sakit dari makanan dan minuman tertentu. (H.R. al-Hakim yang bersumber dari Abi Said dengan dla'if).
Wahai dunia jadikanlah engkau sangat pahit kepada wali-wali-Ku dan janganlah engkau menampakkan kemanisanmu kepada mereka untuk menggoda mereka. (HQR Qudla'i yang bersumber dari Ibnu Mas'ud ra.)